IKN Balikpapan (By. U. Noer) Acara ini secara resmi dibuka pada Kamis (4/6/2026) di Hotel Gran Senyiur Balikpapan oleh Wali Kota Balikpapan, Dr. H. Rahmad Mas’ud, M.E., yang menyambut hangat sekitar 180 peserta yang terdiri dari jajaran dekanat, guru besar rumpun ilmu dakwah, perwakilan asosiasi profesi (seperti PABKI, ASKOPIS, PAMDI, PAMHU, dan P2MI), serta para koordinator program studi dari seluruh nusantara.
Kehadiran delegasi Jurusan BPI FDK UIN Alauddin Makassar : Dr. Hamriani, M.Sos.I dalam forum ini yang berfokus pada penyamaan persepsi kurikulum serta penguatan peran bimbingan dan penyuluhan Islam di tengah dinamika masyarakat metropolitan baru. Sebagai bagian dari organisasi profesi Perkumpulan Ahli Bimbingan Konseling Islam (PABKI), partisipasi aktif BPI UIN Alauddin dimaksudkan untuk merumuskan integrasi layanan konseling berbasis digital guna mendampingi transformasi sosial kemasyarakatan di era kota pintar.
Ketua FORDAKOM, Prof. Dr. Hasan Sazali, M.Ag., menggarisbawahi bahwa forum ini bukan sekadar wadah silaturahmi akademik, melainkan sebuah ruang kolaboratif untuk merumuskan masa depan arah pendidikan dakwah. Respons terhadap digitalisasi, penguatan riset bersama, serta kapasitas adaptasi dosen menjadi fondasi penting agar lulusan PTKIN mampu berkontribusi nyata dalam pembangunan peradaban bangsa yang berkelanjutan.
Dialog Strategis dengan Otorita IKN
Puncak agenda FORDAKOM 2026 berlangsung pada Jumat (5/6/2026), di mana seluruh delegasi bertolak langsung ke Office Ibu Kota Nusantara (OIKN). Di sana, para akademisi terlibat dalam dialog interaktif intensif bersama jajaran narasumber dari jajaran kedeputian OIKN, meliputi Deputi Bidang Sosial Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat, Deputi Bidang Perencanaan dan Pertanahan, serta Deputi Bidang Transformasi Hijau dan Digital.
Dalam forum talkshow tersebut, dipaparkan cetak biru pembangunan IKN yang mengintegrasikan kecanggihan teknologi dengan keberlanjutan lingkungan. Merespons paparan dari OIKN, para akademisi senior FORDAKOM seperti Prof. Dr. Gun Gun Haryanto, M.Si., dan Prof. Dr. Nur Syam turut memberikan perspektif akademik teoretis maupun praktis mengenai bagaimana nilai-nilai humanis dan komunikasi dakwah universal dapat menjadi pilar harmonisasi sosial di kota pintar.
"Pembangunan kota pintar tidak melulu soal kesiapan infrastruktur digital dan kecerdasan buatan, melainkan juga tentang kesiapan mental, ketahanan sosial, dan kesejahteraan psikologis warganya. Di sinilah kompetensi keilmuan Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI) mutlak diperlukan sebagai pilar konseling sosial kemasyarakatan," ungkap perwakilan delegasi saat diskusi mengenai dampak sosiologis transformasi digital IKN.
Kontribusi Nyata terhadap Lingkungan Hidup
Sebagai wujud nyata dari komitmen terhadap pembangunan yang hijau dan berkelanjutan, sebelum talkshow dimulai, seluruh peserta FORDAKOM, termasuk delegasi dari FDK UIN Alauddin Makassar, berpartisipasi langsung dalam aksi penanaman pohon di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN. Aksi ini menjadi simbolisasi bahwa sivitas akademika PTKIN mendukung penuh konsep forest city yang ramah lingkungan dan lestari.
Melalui FORDAKOM 2026 ini, dirumuskan beberapa rekomendasi utama untuk rumpun BPI, antara lain:
Reorientasi Kurikulum: Menyelaraskan mata kuliah bimbingan konseling Islam dengan tantangan kesehatan mental di era siber dan masyarakat urban.
Kolaborasi Riset Nasional: Menginisiasi penelitian bersama lintas PTKIN mengenai kesiapan psikososial masyarakat lingkar IKN menghadapi transformasi digital.
Penguatan Pengabdian Berbasis Komunitas: Mendorong program penyuluhan aktif guna meminimalisir gegar budaya (culture shock) pada proses migrasi dan integrasi sosial di IKN.
Rangkaian kegiatan yang berlangsung maraton selama empat hari ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk mendorong integrasi akademik PTKIN dalam agenda besar pembangunan nasional, memastikan bahwa nilai-nilai dakwah dan konseling Islam tetap menjadi bagian integral dari kemajuan peradaban modern Indonesia.