Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
[email protected] Portal Akademik Masuk
  1. Beranda
  2. Berita
  3. Detail Berita
Kuliah Umum BPI FDK UIN Alauddin Bekali Mahasiswa Strategi Adaptif Menghadapi Krisis Kesehatan Mental

Kuliah Umum BPI FDK UIN Alauddin Bekali Mahasiswa Strategi Adaptif Menghadapi Krisis Kesehatan Mental

Gowa, 8 Juni 2026 – Program Studi Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar menggelar Kuliah Umum bertema “Psikoedukasi dan Kesehatan Mental: Strategi Adaptif di Era Disrupsi” di Auditorium UIN Alauddin Makassar, Senin (08/06/2026).


Kegiatan yang dipandu oleh Nurhikma M., S.Sos., M.A. ini menghadirkan sejumlah narasumber yang membahas berbagai tantangan kesehatan mental di era modern serta strategi adaptif yang dapat diterapkan untuk menjaga kesejahteraan psikologis di tengah derasnya arus perubahan sosial dan teknologi.


Salah satu narasumber, Dr. H. Shaifullah Rusmin, Lc., M.Th.I., Kepala Seksi Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama Kota Makassar, menjelaskan bahwa gangguan kesehatan mental saat ini banyak dipengaruhi oleh penggunaan media sosial yang tidak dikelola secara bijak.


Menurutnya, derasnya informasi yang beredar melalui media sosial dapat memberikan dampak positif maupun negatif. Apabila tidak disikapi dengan baik, kondisi tersebut dapat memicu berbagai persoalan psikologis yang memengaruhi kesehatan mental seseorang.


Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya pendekatan agama sebagai pedoman dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan modern.


“Pendekatan agama berperan sebagai kompas dan penunjuk jalan menuju akhirat. Agama itu ibarat pohon, akarnya adalah akidah. Akidah yang kuat menjadi pondasi utama dalam membangun mental yang kuat dan menjadi benteng dalam menghadapi berbagai gangguan mental di era saat ini,” ujarnya.


Sementara itu, Fitriana, S.Pd., M.Pd., yang merupakan lecturer, counselor, dan mompreneur, menyoroti tingginya kerentanan generasi saat ini terhadap berbagai persoalan kesehatan mental.


Menurutnya, perkembangan teknologi digital telah membuat masyarakat menghabiskan lebih banyak waktu dengan telepon genggam, sehingga secara perlahan mengurangi daya tahan individu dalam menghadapi berbagai tekanan kehidupan.


Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut dapat memunculkan berbagai fenomena psikologis seperti social comparison, overthinking, serta berbagai bentuk tekanan mental lainnya yang berpotensi mengganggu kesehatan psikologis seseorang.


“Generasi saat ini merupakan generasi yang sangat rentan. Kita menghabiskan begitu banyak waktu menggunakan ponsel sehingga daya tahan diri semakin berkurang. Dari kondisi ini muncul berbagai fenomena seperti social comparison, overthinking, dan berbagai persoalan lain yang dapat memicu gangguan kesehatan mental,” jelasnya.


Fitriana juga menyoroti fenomena meningkatnya penggunaan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) sebagai tempat berbagi cerita dan keluh kesah.


Menurutnya, meskipun AI mampu memberikan respons yang cepat dan informatif, peran manusia dalam proses pendampingan psikologis tetap tidak dapat tergantikan.


“Mungkin banyak di antara kita yang sering curhat kepada AI. Namun secanggih apa pun AI, teknologi tersebut tidak dapat memahami emosi manusia secara utuh seperti halnya seorang konselor yang mampu mendengarkan, memahami, dan merespons kondisi emosional seseorang secara langsung,” ungkapnya.


Pada sesi berikutnya, Dr. Meisil B. Wulur, M.Sos.I., C.Ht., selaku CEO Healing Hearths Counseling & Therapist Center membagikan pengalaman dan pandangannya sebagai seorang konselor yang kerap berhadapan langsung dengan berbagai persoalan kesehatan mental yang dialami masyarakat.


Ia menjelaskan bahwa kesehatan mental merupakan isu yang sangat luas dan kompleks. Menurutnya, gangguan kesehatan mental tidak hanya dipengaruhi oleh penggunaan media sosial atau telepon genggam, tetapi juga berbagai faktor lain seperti tekanan akademik, persoalan keluarga, hubungan asmara, hingga tuntutan kehidupan sehari-hari.


“Kalau kita berbicara tentang kesehatan mental, tentu pembahasannya tidak ada habisnya. Masalah kesehatan mental bukan hanya disebabkan oleh penggunaan HP, tetapi juga berbagai faktor lain seperti tekanan akademik, persoalan asmara, keluarga, dan berbagai tekanan hidup lainnya,” jelasnya.


Ia juga mengungkapkan bahwa berdasarkan berbagai penelitian, kesehatan mental saat ini telah menjadi macro trend yang menunjukkan peningkatan kasus dari tahun ke tahun.


“Kesehatan mental menjadi tren makro yang terus meningkat. Semua orang pasti pernah mengalami stres, tetapi ketika stres itu berlangsung secara berlebihan dan tidak mampu dikelola dengan baik, maka kondisi tersebut dapat berkembang menjadi gejala depresi,” ujarnya.


Dalam kesempatan tersebut, ia turut membagikan pengalamannya saat mendampingi klien yang mengalami tekanan berat akibat berbagai persoalan di lingkungan kampus maupun keluarga. Melalui proses konseling, klien diajak untuk memahami kembali berbagai pengalaman hidup dari sudut pandang yang lebih positif sehingga mampu melihat bahwa perhatian dan sikap orang tua yang selama ini dianggap sebagai tekanan sebenarnya merupakan bentuk kasih sayang dan kepedulian.


Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya mencari bantuan profesional ketika seseorang mulai mengalami gejala depresi atau kesulitan dalam mengelola tekanan hidup yang dihadapi.


“Ketika stres sudah mengganggu aktivitas sehari-hari dan berlangsung dalam waktu yang lama, jangan ragu untuk mencari bantuan kepada konselor atau tenaga profesional agar mendapatkan pendampingan yang tepat,” pesannya.


Salah satu peserta kegiatan, Nuranggraeni, mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Penyuluhan Islam semester IV, mengaku memperoleh banyak wawasan baru dari materi yang disampaikan para narasumber.


Menurutnya, tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi saat ini, terutama bagi mahasiswa yang menghadapi berbagai tantangan dan perubahan di era disrupsi.


“Kegiatan ini sangat bermanfaat, khususnya bagi mahasiswa BPI. Kuliah umum ini memberikan pemahaman mengenai strategi adaptif yang dapat diterapkan dalam menghadapi berbagai tantangan kesehatan mental di era disrupsi,” ungkapnya.


Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa semakin memahami pentingnya menjaga kesehatan mental, mampu membangun ketahanan diri melalui pendekatan akademik, sosial, dan spiritual, serta memiliki bekal yang memadai dalam mendampingi masyarakat menghadapi berbagai tantangan psikologis di era modern.


(hmsfdk)