Andi Utami Ananingsih Musdar (Mahasiswa Program Magister Komunikasi Penyiaran Islam Pascasarjana UIN Alauddin Makassar)
Perwajahan dakwah hari ini tidak
lagi sama dengan dua atau tiga dekade lalu. Jika dahulu pesan-pesan agama
bersandar kuat pada pengajian tatap muka, khotbah Jumat di masjid, atau
rubrikasi khusus di media cetak, kini realitas tersebut telah bergeser secara
radikal. Kita sedang berada di pusaran konvergensi media—sebuah era di
mana batas antara media cetak, siaran (radio/TV), dan media digital melebur
menjadi satu kesatuan di dalam genggaman layar gawai.
Bagi dunia dakwah, fenomena ini
bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi, ia membuka keran demokratisasi
informasi keagamaan yang luar biasa luas. Namun di sisi lain, konvergensi media
membawa sederet tantangan struktural dan kultural yang jika gagal dimitigasi,
justru dapat mendegradasi esensi nilai dakwah itu sendiri.
Hiper-realitas dan
Pendangkalan Makna
Tantangan terbesar dakwah di
ruang digital saat ini adalah tarikan algoritma media sosial. Format konten
yang bergerak cepat—seperti video pendek berdurasi kurang dari 60
detik—menuntut pesan agama disampaikan secara instan dan atraktif. Akibatnya,
terjadi risiko simplifikasi atau pendangkalan materi.
Agama yang sejatinya memiliki
kedalaman teologis, sejarah, dan fikih yang kompleks, kerap kali diringkas
menjadi potongan video demi mengejar views, likes, dan
keterikatan penonton (engagement). Dakwah pun kerap terjebak dalam
industri hiburan (pop-islamisme). Penceramah tidak lagi hanya dituntut
memiliki kedalaman ilmu, melainkan juga harus memiliki daya pikat visual dan
performa yang ramah algoritma. Ketika popularitas digital menjadi tolok ukur
utama kesuksesan, substansi dakwah rentan tergerus oleh sensasi.
Komodifikasi dan Fragmentasi
Otoritas
Konvergensi media juga melahirkan
fenomena "ustaz dadakan". Ruang digital memberikan panggung yang
setara bagi siapa saja untuk berbicara atas nama agama, tanpa memandang latar
belakang sanad keilmuan yang jelas. Hal ini memicu fragmentasi otoritas
keagamaan. Masyarakat awam sering kali kesulitan membedakan mana fatwa yang
lahir dari kedalaman ijtihad ulama berkompeten, dan mana opini keagamaan yang
sekadar mencari panggung viral.
Dampaknya adalah munculnya
polarisasi di akar rumput. Narasi keagamaan yang keras, hitam-putih, dan saling
mengafirkan justru lebih mudah memicu emosi publik dan mendapat panggung besar
di media sosial. Ruang publik kita akhirnya riuh oleh perdebatan kusir, bukan
oleh internalisasi nilai keimanan yang menyejukkan.
Refleksi Penting:
Konvergensi media menuntut para dai tidak sekadar memindahkan mimbar
konvensional ke layar digital, melainkan merumuskan ulang metodologi
penyampaian tanpa mengorbankan integritas substansi materi.
Strategi Adaptasi: Menguasai
Arus
Menghadapi realitas ini, para
penggiat dakwah tidak boleh bersikap reaktif apalagi menarik diri. Menolak
konvergensi media sama saja dengan mengucilkan diri dari denyut nadi kehidupan
masyarakat modern. Langkah strategis yang harus diambil meliputi tiga hal
utama:
|
Aspek Strategi |
Implementasi di Era Digital |
|
Literasi Digital Dai |
Peningkatan kemampuan produksi
konten, pemahaman algoritma, dan penguasaan komunikasi visual. |
|
Kolaborasi Multidisiplin |
Sinergi antara ahli agama
(ulama) dengan praktisi media kreatif (animator, editor, copywriter). |
|
Narasi Moderasi |
Mengemas konten keislaman yang
substantif, ramah, inklusif, dan solutif terhadap problem keseharian. |
Konvergensi media hanyalah sebuah
alat (medium). Ia bisa menjadi wasilah (sarana) yang mengantarkan umat menuju
pencerahan, atau justru menjadi alat yang mencerai-beraikan. Tantangan dakwah
hari ini bukan lagi terletak pada keterbatasan jangkauan, melainkan pada
bagaimana menjaga kemurnian dan kedalaman pesan agama di tengah riuhnya arus
informasi.
Sudah saatnya institusi keagamaan, para dai, dan cendekiawan muslim keluar dari zona nyaman. Dakwah kontemporer harus mampu mengisi ruang-ruang konvergensi ini dengan konten yang tidak hanya estetis secara visual, tetapi juga kokoh secara metodologi keilmuan. Hanya dengan cara itulah, esensi dakwah sebagai rahmatan lil 'alamin (rahmat bagi semesta alam) dapat membumi di era digital.