Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
[email protected] Portal Akademik Masuk
  1. Beranda
  2. Berita
  3. Detail Berita
Tak Harus Punya Tim Khusus, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Alauddin Ungkap Praktik Protokoler di PT Pos Indonesia

Tak Harus Punya Tim Khusus, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Alauddin Ungkap Praktik Protokoler di PT Pos Indonesia

Makassar — Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar melaksanakan wawancara dengan PT Pos Indonesia (Persero) Kantor Cabang Utama (KCU) Makassar pada Jumat (23/10/2026). Kegiatan ini bertujuan untuk mendalami praktik keprotokoleran di lingkungan perusahaan sekaligus menghubungkan materi perkuliahan dengan penerapannya dalam dunia kerja.

Wawancara tersebut menghadirkan Ibu Riska dari bagian Sumber Daya Manusia (SDM) PT Pos Indonesia (Persero) KCU Makassar sebagai narasumber. Dalam kegiatan ini, mahasiswa menggali informasi mengenai sistem keprotokoleran perusahaan, pengaturan kegiatan resmi, tata tempat, tata penghormatan, etika komunikasi, hingga tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan. Dalam penjelasannya, Ibu Riska mengungkapkan bahwa PT Pos Indonesia KCU Makassar tidak memiliki bagian khusus yang menangani keprotokoleran seperti yang umumnya terdapat di instansi pemerintahan. Pelaksanaan kegiatan yang berkaitan dengan keprotokoleran dilakukan secara fleksibel dengan melibatkan pegawai yang diberikan tanggung jawab sesuai kebutuhan.

“Kalau di Kantor Pos Makassar ini, sebenarnya tidak ada sistem keprotokolan yang formal seperti di instansi pemerintahan begitu. Karena kegiatan utama kami lebih banyak ke pelayanan pelanggan, pengiriman surat dan paket, sama urusan administrasi. Kalau ada rapat, kunjungan tamu, atau acara resmi perusahaan, biasanya pegawai yang ditunjuk akan mengatur sesuai kebutuhanji. Jadi sifatnya lebih praktis, menyesuaikan dengan kegiatan yang ada.”

Ia juga menjelaskan bahwa kegiatan resmi perusahaan, seperti rapat internal, kunjungan pimpinan, pertemuan dengan mitra kerja, serta acara perusahaan, membutuhkan koordinasi dan pembagian tugas yang baik. Meskipun tidak memiliki petugas protokoler khusus, setiap kegiatan tetap diupayakan berjalan tertib melalui kerja sama antarpegawai.

“Kami tetap juga memperhatikan ketertiban acara, kesopanan dalam menerima tamu, pengaturan tempat, dan hal-hal yang dibutuhkan selama kegiatan berlangsung,” ungkap Ibu Riska.

Selain koordinasi, pengaturan tata tempat juga menjadi bagian yang diperhatikan dalam penyelenggaraan kegiatan resmi. Penempatan pimpinan dan tamu undangan umumnya mempertimbangkan jabatan serta kedudukan masing-masing. Pihak yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan kegiatan akan berkoordinasi dengan pimpinan untuk menentukan pengaturan tempat duduk yang sesuai.

Dalam hal penyambutan tamu, pegawai yang ditunjuk bertugas menyambut dan mengarahkan tamu menuju tempat kegiatan. Sikap sopan, penampilan yang rapi, serta kemampuan berkomunikasi secara profesional menjadi hal penting yang perlu diperhatikan. Ibu Riska turut menjelaskan bahwa persiapan kegiatan resmi dilakukan melalui koordinasi dengan pimpinan dan pihak terkait. Proses tersebut meliputi penentuan konsep dan jadwal acara, pembentukan panitia, penyiapan tempat dan perlengkapan, serta penyusunan susunan acara. Apabila terjadi perubahan jadwal atau kendala secara mendadak, koordinasi kembali dilakukan untuk menyesuaikan pelaksanaan kegiatan.

“Tantangan yang paling terasa itu perubahan jadwal secara mendadak dan waktu persiapan yang terbatas. Jadi kami harus cepat berkoordinasi dan menyesuaikan keadaan,” jelasnya.

Lebih lanjut, pemanfaatan teknologi komunikasi juga membantu koordinasi dalam penyelenggaraan kegiatan. WhatsApp dan email digunakan untuk menyampaikan undangan, mengonfirmasi kehadiran, membagikan susunan acara, serta mempermudah komunikasi antarpegawai yang terlibat. Dari hasil wawancara tersebut, mahasiswa memperoleh pemahaman bahwa praktik keprotokoleran tidak selalu diterapkan melalui unit khusus, tetapi dapat disesuaikan dengan struktur dan kebutuhan organisasi. Hal yang mendasar tetap terletak pada koordinasi, etika, pembagian tanggung jawab, dan kemampuan komunikasi dalam mendukung kelancaran suatu kegiatan.

Kegiatan wawancara ini menjadi pengalaman pembelajaran bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Alauddin Makassar untuk memahami penerapan keprotokoleran secara langsung di lingkungan perusahaan. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diharapkan dapat memperluas wawasan mengenai dunia kerja serta mengembangkan keterampilan komunikasi, kedisiplinan, kerja sama, dan sikap profesional yang dibutuhkan dalam bidang keprotokoleran.



*Mila/ADFEP*