MAKASSAR – Hubungan antara pimpinan dan karyawan di PT Ulaweng Cinnong Haramain, biro perjalanan umrah dan haji di Jalan Borong, Kecamatan Manggala, Makassar, terjalin sangat baik. Hal itu disampaikan Nisa, staf bagian humas yang juga menangani sumber daya manusia (HRD), saat diwawancarai mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Alauddin Makassar, Jumat (30/10/2026).
Wawancara ini dilakukan untuk tugas mata kuliah Human Relations dalam Organisasi. Mahasiswa menggali hubungan antarkaryawan, hubungan pimpinan dengan karyawan, serta pengelolaan sumber daya manusia di perusahaan tersebut.
Struktur ramping: tiga staf dan banyak agen
Menurut Nisa, perusahaan ini tidak memiliki banyak pembagian tugas. Hanya ada tiga staf, yaitu humas, admin, dan promosi. Admin merangkum data pendaftar jamaah, humas mengelola media dan menjadi penghubung, sedangkan promosi menangani pemasaran. Di luar staf, perusahaan didukung agen yang tersebar hampir di setiap daerah di Sulawesi Selatan dan menjadi ujung tombak pemasaran kepada masyarakat.
Keputusan lewat forum, bukan sepihak
Perusahaan dipimpin dua pemilik yang merupakan pasangan suami istri. Ketika agen mengajukan ide, pemilik lebih dulu menilai apakah ide itu berdampak bagi jamaah atau sekadar gagasan promosi. Setelah itu, pemilik menggelar forum diskusi. Ada dua forum terpisah: satu bersama staf, dan satu lagi bersama agen tanpa kehadiran staf.
“Owner tidak pernah memutuskan ide dari seorang agen sendiri,” ujar Nisa. Alasannya, pemilik menyadari bahwa jumlah pendaftar umrah sangat bergantung pada kerja para agen.
Kritik dan saran dari agen tidak disampaikan langsung kepada pemilik, melainkan melalui tim humas. Humas juga diberi kepercayaan mendampingi agen ketika ada perubahan metode kerja, baik dalam penyebaran informasi maupun promosi brosur. Pendampingan dilakukan lewat materi dan praktik langsung di lapangan.
Silaturahmi mingguan dan fee untuk agen
Keharmonisan hubungan itu, kata Nisa, terlihat dari kebiasaan pemilik mengadakan silaturahmi hampir setiap minggu. Seluruh agen berkumpul dan makan bersama dengan ditraktir pemilik, sekaligus berdiskusi tentang perkembangan masing-masing agen.
Kenyamanan agen juga dijaga lewat fee yang dinilai cukup besar untuk setiap jamaah yang berhasil didaftarkan, serta hadiah bagi agen berprestasi. Sejak perusahaan berdiri, menurut Nisa, belum ada agen yang keluar, bahkan semakin banyak agen baru yang bergabung. Pemilik juga memperlakukan karyawan baru dan lama sama, dan bonus diberikan berdasarkan kinerja.
Kinerja staf dan agen dipantau lewat aplikasi khusus yang memuat absensi, unggahan, penyebaran informasi, dan dokumentasi promosi. Dengan begitu, perkembangan kerja dapat dilihat pemilik hampir setiap hari.
Pemilik tutup kerugian dengan dana pribadi
Dalam penyelesaian masalah, Nisa mencontohkan kendala yang baru-baru ini terjadi pada pemberangkatan jamaah dan menimbulkan kerugian biaya cukup besar. Pemilik, katanya, menutup kerugian itu dengan dana pribadi. Ia mengakui kerja sama dengan travel lain maupun pihak yang membantu promosi kerap menemui kesulitan. Salah satunya saat berkolaborasi dengan influencer Indonesia yang berada di Arab Saudi, yang komunikasinya hanya bisa lewat media digital seperti Instagram dan WhatsApp.
Komunikasi jelas, tetapi kabar tak resmi jadi hambatan
Pola komunikasi di perusahaan ini dinilai baik karena instruksi pemilik jelas, baik disampaikan langsung maupun lewat grup WhatsApp kantor. Koordinasi pun terarah: agen berkoordinasi dengan staf promosi untuk urusan promosi, dengan admin untuk pelaporan data, dan dengan humas untuk kebutuhan media. Promosi dilakukan di Instagram, TikTok, dan Facebook.
Meski begitu, komunikasi informal masih sering terjadi. Nisa mencontohkan kabar penurunan harga paket umrah yang beredar antaragen sebelum ada pengumuman resmi. Menurutnya, hal ini menghambat karena calon jamaah bisa mendaftar dengan harapan harga tertentu, lalu kecewa ketika harga sebenarnya berbeda. Informasi harga paket dan fasilitas di Tanah Suci hanya diketahui staf, sedangkan informasi promosi disampaikan kepada semua pihak.
Hambatan lain berupa perbedaan pemahaman antargenerasi, karena milenial dan Gen Z bekerja bersama, serta gangguan sinyal di daerah yang membuat sebagian agen tertinggal informasi di grup yang ramai.
Nilai Sipakatau, Sipakalebbi, dan Sipakainge
Soal budaya lokal, Nisa menyebut nilai Sipakatau, Sipakalebbi, dan Sipakainge diterapkan di lingkungan kerja, meski belum terlalu kental. Karyawan saling mengenal, saling menghargai terhadap pimpinan, dan saling mengingatkan, misalnya untuk menunaikan salat. Menurutnya, sejak perusahaan berdiri belum pernah terjadi konflik atau perselisihan antarkaryawan.
Wawancara ini diharapkan memberi gambaran nyata tentang penerapan human relations di perusahaan jasa berskala kecil, khususnya bagaimana keterbukaan pimpinan, forum diskusi, dan nilai budaya lokal menjaga kekompakan tim.
*NF/ADFEP*