Makassar, 27 Oktober 2026 — Apakah menjadi seorang Public Relations (PR) hanya tentang berbicara dan menyampaikan informasi kepada publik? Pada kenyataannya, profesi ini menuntut lebih dari sekadar kemampuan berkomunikasi. Di balik citra perusahaan yang terjaga, terdapat strategi, kepekaan, dan kehati-hatian dalam membangun hubungan dengan berbagai pihak. Hal tersebut menjadi salah satu pembelajaran yang diperoleh mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, melalui kunjungan akademik ke PT Baruga Asrinusa Development.
Kunjungan ini dilaksanakan untuk memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Public Relations sekaligus memperdalam pemahaman mahasiswa mengenai penerapan fungsi dan strategi kehumasan di lingkungan perusahaan swasta. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa terlebih dahulu bertemu dengan pihak PT Baruga Asrinusa Development sebelum melaksanakan wawancara bersama Khusnul Khatimah selaku Public Relations Analyst Kalla Land. Wawancara berlangsung dengan lancar dan membahas berbagai aspek kehumasan, mulai dari fungsi PR hingga strategi perusahaan dalam menjaga reputasi di mata publik.
Dalam sesi wawancara, Khusnul Khatimah menjelaskan bahwa seorang praktisi Public Relations perlu memiliki kepribadian yang tenang dan tidak mudah panik ketika menghadapi berbagai situasi. Kemampuan mengendalikan diri menjadi hal penting, terutama ketika menghadapi persoalan yang berpotensi memengaruhi citra perusahaan. Dalam situasi seperti ini, ketenangan diperlukan agar seorang praktisi PR dapat mempertimbangkan langkah komunikasi secara tepat dan tidak terburu-buru mengambil keputusan.
Selain ketenangan, Khusnul Khatimah menekankan tiga prinsip yang perlu ditanamkan oleh seorang praktisi PR, yaitu seni, hati, dan hati-hati. Seni berkaitan dengan kreativitas dan keterampilan dalam menyampaikan pesan. Hati mencerminkan kepekaan dalam membangun hubungan dengan orang lain, sedangkan hati-hati menekankan pentingnya ketelitian dalam menyampaikan informasi dan mengambil keputusan. Ketiga prinsip tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan PR tidak hanya membutuhkan kemampuan berbicara, tetapi juga kecakapan dalam memahami situasi dan menjaga kepercayaan publik.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa fungsi Public Relations di Kalla Group adalah membangun sekaligus menjaga reputasi perusahaan. Reputasi yang telah terbentuk dengan baik di mata masyarakat perlu dipertahankan melalui komunikasi yang terarah dan hubungan yang berkelanjutan dengan publik. Oleh karena itu, pekerjaan PR tidak berhenti ketika perusahaan berhasil memperoleh citra positif, tetapi berlanjut pada upaya menjaga kepercayaan yang telah diberikan masyarakat.
Dalam menjalankan fungsi tersebut, Kalla Group menerapkan strategi komunikasi dengan membangun hubungan yang baik bersama media serta mengelola komunikasi secara efektif, baik di lingkungan internal maupun eksternal perusahaan. Hubungan dengan media menjadi salah satu bagian penting dalam penyampaian informasi kepada publik, sementara komunikasi internal dan eksternal diperlukan untuk menjaga keselarasan informasi di antara pihak-pihak yang berkepentingan.
Selain itu, manajemen krisis juga menjadi bagian dari strategi Public Relations. Kemampuan mengantisipasi dan menangani situasi yang berpotensi memengaruhi reputasi perusahaan diperlukan agar komunikasi dapat dilakukan secara tepat ketika menghadapi persoalan. Hal ini memperlihatkan bahwa praktisi PR tidak hanya berperan dalam membangun citra positif, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga kepercayaan publik ketika perusahaan menghadapi tantangan.
Adapun sejumlah kegiatan Public Relations yang dilakukan Kalla Group meliputi media gathering, pameran (exhibition), serta program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR). Media gathering menjadi sarana untuk mempererat hubungan dengan media, sedangkan exhibition dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan perusahaan kepada publik. Sementara itu, program CSR merupakan salah satu bentuk keterlibatan perusahaan dalam kegiatan sosial dan pembangunan hubungan dengan masyarakat.
Melalui wawancara tersebut, mahasiswa memperoleh gambaran yang lebih konkret mengenai penerapan teori Public Relations dalam dunia profesional. Penjelasan narasumber memberikan pemahaman bahwa keberhasilan PR tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menyampaikan pesan, tetapi juga oleh kemampuan membangun relasi, mengelola komunikasi, serta menjaga reputasi perusahaan secara berkelanjutan.
Kunjungan akademik ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menghubungkan teori yang dipelajari di bangku perkuliahan dengan praktik kehumasan secara langsung. Pengalaman tersebut diharapkan dapat memperluas wawasan mahasiswa mengenai peran dan tanggung jawab praktisi Public Relations sekaligus menjadi bekal dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja.
*VAJ/ADFEP*