MAKASSAR — Biro
perjalanan wisata PT Manasik Haji Umrah (MHI) Cabang Makassar mengutamakan
penerapan standar operasional prosedur (SOP) layanan serta pengaturan
keprotokolan yang fleksibel dalam setiap penyelenggaraan kegiatan resmi,
seperti seminar dan tabligh akbar.
Hal tersebut
diungkapkan oleh pihak manajemen PT Manasik Haji Umrah saat ditemui di
Makassar. Sebagai biro perjalanan bukan instansi pemerintahan penerapan aturan
keprotokolan di MHI disesuaikan secara profesional untuk mengatur layanan,
keamanan, serta kenyamanan peserta perjalanan umrah dan jemaah.
Dalam pelaksanaan
operasionalnya, MHU membagi tugas khusus melalui petugas handling yang terbagi
menjadi dua bagian utama. Pertama, handling keberangkatan yang bertugas
mengatur manasik, visa jemaah, tiket, serta kelengkapan dokumen melalui
Siskohatup. Kedua, handling bandara yang memastikan keamanan jemaah selama
pengawasan di bandara hingga memastikan koper aman sampai di pesawat.
Terkait kegiatan
resmi yang melibatkan tokoh penting atau pejabat daerah, seperti bupati, MHU
memiliki tata cara penanganan dan penyambutan khusus. Berdasarkan pengalaman
kegiatan Tabligh Akbar di Masjid Raya Pangkep, pihak panitia melakukan
penjemputan langsung dengan mendatangi pejabat bersangkutan serta menyambutnya
di pintu masuk ruangan acara.
"Kemarin
kami menyambut langsung di pintu masuk, lalu saya memperkenalkan diri sebagai
kepala cabang di Makassar serta memperkenalkan owner dan tim pusat yang
hadir," ujar perwakilan manajemen PT Manasik Haji Umrah.
Dalam penentuan
tata letak atau posisi duduk tamu kehormatan, pihak panitia menempatkan pejabat
daerah di barisan depan sebelah kanan, berdampingan dengan para ustaz atau
penceramah yang menjadi branding perusahaan, seperti Ustaz Solmed dalam
kegiatan terdahulu. Jika tamu penting atau pejabat mengalami keterlambatan,
panitia telah mengantisipasinya dengan mengisi waktu jeda melalui rangkaian
acara atau materi lain sebelum kedatangan tamu tersebut.
Selain kegiatan luring seperti Tabligh Akbar yang mendatangkan artis dan ulama ke daerah-daerah seperti di Pangkep dan Jeneponto MHU juga rutin menggelar seminar daring melalui program Seminar Syiar Baitullah (SBU) serta seminar offline yang diadakan dua kali setahun. Guna memastikan kelancaran acara besar, pihak penyelenggara senantiasa melaksanakan gladi bersih, meskipun dalam kondisi tertentu harus menghadapi penyesuaian secara spontanitas akibat jadwal pimpinan yang mendadak.